INTRODUCTION TO NATURAL COLOR MIX –> KETAPANG LEAF AND INDIGOFERA

Deskripsi:

Warna kain yang dihasilkan dari pencampuran warna alam yang berasal dari Daun Ketapang dengan Indigo. Efek motif yang dihasilkan dari teknik lipat Mbironi/shibori.

Proses:

Pembuatan warna Kuning keemasan sampai hijau dari daun Ketapang dilakukan dengan menggodok daun ketapang yang pengambilannya berdasarkan waktu pengambilan. Waktu pengambilan berpengaruh pada tingkat kekontrasan dari warna yang dihasilkan. Efek warna yang dihasilkan dari penggodokan daun segar tidak sama dengan warna yang dihasilkan dari daun kering yang digodok.

Produk Pewarnaan dari Daun Ketapang dan Indigo

Daun Ketapang

 

Pohon ketapang adalah nama sejenis pohon tepi pantai yang rindang yang memiliki nama latin Terminalia catappa. Terminalia catappa merupakan pohon besar dengan tinggi mencapai 25 m dan gemang batang sampai 1.5 m. Bertajuk rindang dengan cabang-cabang yang tumbuh mendatar dan bertingkat-tingkat.

Ketapang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara. Namun pada wilayah Sumatra dan Kalimantan pohon ketapang jarang ditemukan. Pohon ini biasa ditanam di Australia bagian utara dan Polinesia, India, Pakistan, Madagaskar, Afrika Timur dan Afrika Barat, Amerika Tengah, serta Amerika Selatan. Pohon ketapang kerap ditanam sebagai pohon peneduh di taman ataupun pinggir jalan. Pohon ketapang mempunyai bentuk cabang dan tajuk yang khas. abangnya mendatar dan tajuknya bertingkat-tingkat mirip struktur pagoda.

 

Zat-zat yang terdapat pada daun ketapang seperti asam humat, tanin dan antosianin. Asam humat adalah zat organik yang memiliki struktur molekul dengan berat molekul tinggi (makromolekul) yang mengandung gugus aktif. Asam humat terbentuk melalui proses fisika, kimia dan biologi dari bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan maupun hewan melalui proses humifikas. Tanin dan antosianin adalah pigmen yang terdapat pada daun ketapang. Daun ketapang memiliki 2 pigmen tetapi yang lebih doniman adalah pigmen tannin.

Tanaman Nila (indigofera)

Tumbuhan ini dikenal dengan nama: Tom jawa, tarum alus, tarum kayu

(Indonesia), indigo (Inggris), nila, tarum (Malaysia), tagung-tagung, taiom, taiung (Filipina). Merupakan tumbuhan asli Afrika Timur dan Afrika bagian Selatan serta telah diperkenalkan ke Laos, Vietnam, Filipina dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Sumba dan Flores) (Adalina, dkk 2010).

Pigmen warna yang ditimbulkannya dikelompokan ke dalam pewarna lemak karena ditimbulkan kembali pada serat melalui proses redoks, pewarna ini seringkali memperlihatkan kekekalan yang istimewa terhadap cahaya dan pencucian. Jenis-jenis indigofera dimanfaatkan secara luas sebagai sumber pewarna biru. Jenis ini sebagai tanaman penutup tanah dan sebagai pupuk.

Budidaya dan perdagangan internasional secara besar-besaran dimulai dalam abad 16 di India dan Asia Tenggara. Di Indonesia indogofera masih dibudidayakan di beberapa desa Pantai Utara Jawa dan diseluruh wilayah Indonesia Bagian Timur yang digunakan untuk mewarnai kain tradisional dan kain untuk keperluan upacara adat (Adalina, dkk 2010).

 

Tanaman indigofera termasuk perdu kecil dan terna dengan percabangan

tegak atau memencar, tertutup indumentum yang berupa bulu-bulu bercabang dua Daunnya berseling, bersirip ganjil kadang-kadang beranak daun tiga atau tunggal. Bunganya tersusun dalam suatu tandan di ketiak daun, bertangkai, daun kelopaknya berbentuk genta bergerigi lima, daun mahkotanya berbentuk kupu-kupu. Buah bertipe polong, berbentuk pita, lurus atau bengkok, berisi 1- 20 biji. Semainya dengan perkecambahan epigeal, keping bijinya tebal, cepat rontok. Dapat tumbuh dari 0-1,650 meter di atas permukaan laut (dpl) dan tumbuh subur di tanah gembur yang kaya akan bahan organik. Sebagai tanaman penghasil pewama di tanam di dataran tinggi dan sebagai tanaman sekunder di tanah sawah, lahan berdrainase cukup baik. Sebagai tanaman penutup tanah dapat ditanam di kebun dengan sedikit naungan atau tanpa naungan. Menyenangi iklim panas dan lembab dengan curah hujan tidak kurang dari 1.750 mm/th (Adalina, dkk 2010).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abdullah L, Suharlina. 2010. Herbage yield and quality of two vegetative parts of Indigofera at different time of first regrowth defoliation. Med. Pet. 33(1):44-49

 

  1. Abdullah L. 2010. Pengembangan pelet Indigofera sebagai sumber pakan hijauan berkualitas. Laporan Hibah Insentif. Kementrian Riset dan Teknologi. Abdullah L. 2011. Herbage production and quality of shrub Indigofera tretead by different concentration of foliar fertilizer. J. Anim. Aci. And Tech. Vol 33(3): 131-137.

 

  1. Apdini TAP. 2011. Pemanfaatan Pellet Indigofera sp. Pada Kambing Perah Peranakan Etawah Dan Saanen (Studi Kasus Peternakan Bangun Karso Farm). Dalam proses publikasi. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

  1. Budie DS. 2010. Aplikasi pupuk organik cair sebagai pemacu pertumbuhan dan produksi tanaman pakan legum Indigofera sp. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

  1. Hassen A, Pieterse PA, Rethman NFG. 2004. Effect of preplanting seed treatment on dormancy breaking and germination of Indigofera accessions. J Tropical Grasslands 38:154–157.

 

  1. Hassen A, Rethman NFG, Apostolides Z. 2006. Morphological and agronomic characterisation of Indigofera species using multivariate analysis. J Tropical Grasslands 40: 45–59.

 

  1. Hassen A, Rethman NFG, van Niekerk WA, Tjelele TJ. 2007. Influence of season/year and species on chemical composition and in vitro digestibility of five Indigofera accession. J Animal Feed Science and Technology 136: 312–322.

 

  1. Izzah U. 2011 Kualitas Fisik Pelet Daun Legum Indigofera sp. dengan Menggunakan Ukuran Pellet Die yang Berbeda dan Lama Penyimpanan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

  1. Jeyachandran R, Baskaran XR. Cindrella L. 2011. Phytochemical Screening and Antimicrobial Activity of Indigofera aspalathoides Vahl. Nature of Pharmaceutical Technology. 1(3): 1-5 33

 

  1. Jovintry I. 2011. Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Daun Tanaman Indigofera sp. Yang Mendapat Perlakuan Pupuk Cair untuk Daun. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

  1. Schrire BD. 2005. Tribe Indigoferae. In: Marquiafa´vela, FS, Ferreirab MDS, Teixeiraa SP. Novel reports of glands in Neotropical species of Indigofera L. (Leguminosae, Papilionoideae). J Flora 204: 189–197.

 

  1. Skerman PJ. 1982. Tropical Forage Legumes. Food and Agricultural Organization: Rome. Strickland RW, Lambourne LJ,

 

  1. Ratcliff D. 1987. A rat bioassay for screening tropical legume forages and seeds for palatability and toxicity. Australian Journal of Experimental Agriculture 27:45–53.

 

  1. 2010. Peningkatan Produktivitas Indigofera sp. Sebagai Pakan Berkualitas Tinggi Melalui Aplikasi Pupuk Organik Cair. Tesis. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

 

  1. Tarigan A. 2009. Productivity and utilization of Indigofera sp. as goat’s feed obtained from different interval and intensity of cutting. Thesis. Bogor Agricultural University, Indonesia.

 

  1. Tokarnia CH, Dobereiner J, Peixoto, PV. 2000. Plantas To´xicas do Brasil. In : Marquiafa´vela, FS, Ferreirab MDS, Teixeiraa SP. Novel reports of glands in Neotropical species of Indigofera L. (Leguminosae, Papilionoideae). J Flora 204: 189–197.

 

  1. Vieira JRC, Antonia de Souza I, Carneiro do Nascimento S, Leite SP. 2007. Indigofera suffruticosa: An Alternative Anticancer Therapy. eCAM;4(3)355–359.

 

  1. Wina E. 2011. Senyawa sekunder dalam Indigofera: sefek positif dan negative serta teknologi mengurangi efek negatifnya. Makalah workshop Ind